REMBANG, suaindonesia .com -Desa Rakitan, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang, sukses menggelar Festival Tongeret kedua kalinya pada 20-21 Desember 2025. Festival yang berlokasi di wahana wisata Sandieng Salora ini merupakan yang pertama di Indonesia yang mengangkat tongeret sebagai tema utama dan menjadi upaya pelestarian alam sekaligus promosi budaya lokal.
Ketua Panitia Festival Tongeret, Mariyanto, menjelaskan bahwa festival ini bertujuan melestarikan dan mempromosikan budaya lokal serta memberdayakan identitas budaya tertentu.
“Tujuan utama Festival Tongeret adalah untuk melestarikan dan mempromosikan budaya lokal serta membangun dan memberdayakan identitas budaya tertentu,” ujarnya.
Festival yang berlangsung dua hari ini menghadirkan berbagai kegiatan yang edukatif dan konservasi. Hari pertama diisi dengan kegiatan camping, sedangkan puncak acara di hari kedua menampilkan Sekolah Alam, berburu tongeret, pemanfaatan sumber daya hutan, pelepasan burung endemik asli Pulau Jawa, dan pementasan wayang tongeret.
Mariyanto menyebutkan, gagasan festival ini dicetuskan oleh Rifan, TPM Kebunharjo kabupaten Rembang. Tongeret, satwa endemik yang tidak dimiliki semua hutan, menjadi indikator lingkungan dan penanda peralihan musim.
“Tongeret merupakan serangga kecil namun manfaatnya sangat banyak. Tongeret dapat menjadi penanda beralihnya musim, khususnya dari musim hujan ke musim kemarau. Tongeret juga menjadi indikator lingkungan. Jika masih ada tongeret, berarti lingkungan masih asri. Perlu digarisbawahi, semua punya gunung tapi tidak semua punya tongeret,” jelasnya.
Daya tarik utama festival ini adalah kita dapat mendengarkan secara langsung suara keras dan khas yang dihasilkan tongeret secara massal, menciptakan “orkestra alam” yang unik. Fenomena ini hanya terjadi pada waktu tertentu dalam setahun dan tidak dapat dijumpai di semua tempat.
Salah satu panitia, Lis, mengatakan persiapan festival ini memakan waktu satu bulan. Acara dibuka untuk umum agar masyarakat dapat ikut serta melestarikan alam. “Persiapan selama satu bulan, dibuka untuk umum agar kita semua dapat melestarikan alam bersama-sama,” katanya.
Keberhasilan Festival Tongeret kedua ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk terus menjaga kelestarian lingkungan dan satwa endemik di Kabupaten Rembang. Panitia berencana menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan yang melibatkan partisipasi masyarakat lebih luas dalam upaya pelestarian alam dan pengembangan wisata berbasis lingkungan.












