Dari UMK ke Thailand, Kisah Tia Amanda Mahasiswa PBSI UMK Ajarkan Bahasa Indonesia ke Mancanegara

Noor Ahsin
Tia Amanda Silfiana, Mahasiswa PBSI UMK saat mengajar bahasa Indonesia di Islam Wittaya School, salah satu sekolah mitra Yayasan Al Hidayah Thailand

SONGKHLA, suaindonesia.com – Langkah kecil membawa cerita besar. Itulah yang dialami Tia Amanda Silfiana, mahasiswa semester 5 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus (UMK), saat ia berkesempatan mengikuti Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) ke luar negeri. Selama 25 hari, tepatnya mulai 3–27 November 2025, Tia menjalani pengalaman berharga mengajar Bahasa Indonesia di Songkhla, Thailand.

Tia ditempatkan di Islam Wittaya School, salah satu sekolah mitra Yayasan Al Hidayah. Di sekolah tersebut, ia mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Setiap harinya, Tia mengampu satu hingga dua kelas dengan durasi 50 menit per pertemuan.

“Nah, di hari Senin itu biasanya saya mendapatkan dua jam pelajaran, kemudian hari Selasa satu jam, hari Rabu saya free, hari Kamis dapat dua jam, dan Jumat satu jam,” tutur Tia sambil menjelaskan jadwal mengajarnya.

Keputusan Tia mengikuti program PLP ke Thailand bukan tanpa alasan. Ia ingin memperkaya pengalaman, menambah wawasan, sekaligus mengenal Thailand lebih dekat.

“Apa sih yang kita cari di kehidupan kalau bukan pengalaman? Dan tentunya saya ingin mengenal gimana sih Thailand itu,” ujarnya.

Sebelum berangkat, Tia menegaskan bahwa kesiapan mental menjadi hal utama. Mengajar di negeri orang dengan sistem dan struktur pendidikan yang berbeda menuntut mental yang kuat. Selain itu, ia juga mempersiapkan kemampuan berbahasa Inggris untuk menunjang komunikasi sehari-hari. Setelah mental dan bahasa, barulah kesiapan finansial menjadi perhatian berikutnya.

Di Islam Wittaya School, Tia mengajarkan berbagai materi dasar BIPA, mulai dari perkenalan dalam Bahasa Indonesia, anggota tubuh, warna, hingga lagu-lagu tradisional Indonesia. Tidak berhenti di bahasa, Tia juga memperkenalkan budaya Indonesia melalui permainan tradisional seperti engklek dan tepuk-tepuk khas Indonesia. Suasana kelas pun menjadi lebih hidup dan menyenangkan.

Namun, pengalaman Tia di Thailand tidak hanya soal mengajar. Ia juga banyak belajar dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang ditemuinya.

“Selain kegiatan belajar, saya juga belajar dari banyak hal di sana. Salah satunya saya diajak oleh ibu guru dan guru-guru di sana untuk jalan-jalan. Dari situ saya banyak belajar tentang Thailand, khususnya sejarahnya, apalagi sejarah Pattani,” jelasnya.

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Tia adalah keramahan masyarakat Thailand. Menurutnya, meski ia seorang pendatang, masyarakat setempat menyambutnya dengan sikap hangat dan terbuka.

Selama mengikuti program PLP ini, Tia semakin menyadari bahwa menjadi seorang pembelajar tidaklah mudah. Seorang pendidik dituntut untuk cepat beradaptasi, memahami karakter peserta didik, serta mampu menyusun bahan ajar yang relevan dan mudah dipahami. Pengalaman ini semakin meyakinkan Tia bahwa pendidikan membutuhkan persiapan yang matang dan kesungguhan.

Perjalanan ke Thailand pun mengubah cara pandang Tia tentang masa depan. Jika sebelumnya ia bercita-cita menjadi guru, kini mimpinya berkembang menjadi pengajar BIPA yang bisa menjelajah dunia. Bahkan, ia juga tertarik menjadi pemandu wisata agar bisa belajar dari berbagai budaya sambil berkelana.

“Saya ingin menjadi pengajar BIPA, kak. Kalau dulu cita-citanya jadi guru biasa. Pengen jadi tour guide juga, biar bisa jalan-jalan. Ternyata ke luar negeri tidak semenyeramkan itu,” ucap Tia sambil tersenyum.

Kisah Tia menjadi bukti bahwa menjadi pendidik tidak hanya tentang ruang kelas, tetapi juga tentang keberanian melangkah, belajar dari dunia luar, dan menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik dalam kehidupan (Satia Aisyah Nur, Ilma Mufaida, Kayla Maylan Fadia Ihsan)

Noor Ahsin
Author: Noor Ahsin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *