Tim Riset FKIP UMK Raih Emas di Ajang JNSF IYSA Lewat Inovasi AR untuk Literasi Anak Tunagrahita

Noor Ahsin
Tim Riset FKIP UMK Raih Emas dalam Ajang IYSA 2026, baru-baru ini.

KUDUS, suaindonesia.com – Tim Riset Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) meraih medali emas dalam ajang Jakarta National Science Fair (JNSF) 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA), baru-baru ini.

Prestasi ini diraih melalui karya inovatif bertajuk SI-ARCA: Smart Inovatif AR Card Alphabet Terintegrasi Budaya Lokal Kudus Guna Menstimulasi Atensi dan Kemampuan Literasi Membaca pada Anak Tunagrahita.

Ketua tim Riset FKIP UMK, M. Mutawajihan Ilallah, mengungkapkan rasa bangga dan syukurnya atas pencapaian tersebut. Ia menyebut keberhasilan ini menjadi pengalaman pertama yang sangat berkesan dalam kompetisi ilmiah.

“Ada rasa kepuasan tersendiri, apalagi ini pertama kalinya saya mengikuti lomba seperti ini. Capaian ini juga tidak lepas dari doa dan dukungan dosen pembimbing, orang tua, serta rekan tim,” ujar Mutawajihan, Jumat (17/4/2026).

Tim ini terdiri dari lima mahasiswa lintas program studi di FKIP, yaitu M. Mutawajihan Ilallah dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Galeh Febrian Agustino dari Program Studi Pendidikan Matematika (PMAT), Zaim Amirul Ahmad S dari Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK), Dewi Masitoh dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), serta Amurwa Pradea I dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI).

Karya yang mereka usung berfokus pada pengembangan media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) dalam bentuk kartu alfabet interaktif. Media ini dirancang untuk membantu anak tunagrahita dalam mengenal huruf sekaligus meningkatkan kemampuan membaca melalui pendekatan visual dan audio yang menarik.

Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh hasil observasi di SLB Negeri Cendono Kudus yang menunjukkan bahwa siswa tunagrahita masih mengalami kesulitan dalam mengenal huruf dan mempertahankan fokus belajar. Selain itu, media pembelajaran yang digunakan dinilai belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan siswa.

Keunggulan SI-ARCA terletak pada integrasi teknologi digital dengan pendekatan budaya lokal Kudus yang mengusung filosofi “Gusjigang”. Pendekatan ini tidak hanya menekankan aspek pengetahuan, tetapi juga nilai kehidupan yang dekat dengan keseharian siswa. Media berbasis audiovisual tersebut terbukti mampu meningkatkan perhatian dan keterlibatan siswa dalam proses belajar.

Tim berharap inovasi ini dapat memberikan dampak nyata bagi dunia pendidikan, khususnya dalam mendukung pembelajaran inklusif. “Kami berharap SI-ARCA dapat membantu meningkatkan literasi membaca anak tunagrahita. Pendidikan inklusif bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi bagaimana teknologi mampu merangkul keterbatasan menjadi kekuatan,” pungkas Mutawajihan.

Noor Ahsin
Author: Noor Ahsin

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *