Mahasiswa PBSI UMK Angkat Kearifan Lokal Melalui Inovasi Teknologi untuk Anak Berkebutuhan Khusus

KUDUS, suaindonesia.com- Senyum sumringah terpancar dari wajah Ella Nailul Fitriya saat menceritakan pencapaiannya di ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2025 di Malaysia. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus angkatan 2023 ini baru saja menorehkan prestasi membanggakan, ia meraih Gold Medal sekaligus special award dari Malaysia Young Scientists Organisation (MYSO).

“Kesempatan itu datang pada orang yang siap, bukan pada orang yang tidak siap,” ujar gadis kelahiran Kudus, 4 November 2005 ini dengan penuh keyakinan. Kalimat itu bukan sekadar moto hidup, melainkan prinsip yang telah membawanya menembus berbagai kompetisi internasional.

Di balik kesuksesan Ella di WICE yang berlangsung pada 21-25 September 2025, terdapat sebuah inovasi bernama “Ethno Card” media pembelajaran kartu bergambar berbasis Augmented Reality (AR) yang dirancang khusus untuk anak-anak tunagrahita, meski juga dapat digunakan oleh anak non-disabilitas.

“Ethno card adalah kartu bergambar kearifan lokal Kudus yang bisa di-scan dengan aplikasi. Nanti akan muncul animasi 3D dari gambar tersebut,” jelas Ella antusias. Yang menarik, aplikasi Ethno Card tidak memerlukan koneksi internet dan sudah support untuk Android maupun iOS.

Bersama empat rekan satu timnya, Nayla Hasna Nafisah (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) sebagai ketua, Maulida Niken Ajeng Kartika (Pendidikan Bahasa Inggris), Pria Jaya Permadi (Pendidikan Matematika), dan Zaim Amirul Ahmad Sodiqin (Pendidikan Bimbingan dan Konseling)—Ella mengembangkan sendiri seluruh komponen produk ini, mulai dari kartu, teknologi AR, hingga aplikasinya.

Kartu berwarna biru dan kuning terang ini menampilkan berbagai ikon kearifan lokal Kudus seperti ukiran, Museum Batik Kudus, Menara Kudus, Tugu K3, Joglo, kue sagon, mandalika, sate kikil, adon coro, hingga gerabah. Di bagian depan kartu terdapat gambar kearifan lokal, sementara bagian belakang berisi jawaban dari soal latihan berhitung.

“Sebenarnya yang ter-scan bukan kartunya, tapi gambar kearifan lokalnya. Jadi misalkan gambarnya mau diletakkan di tembok atau di kertas, masih tetap bisa di-scan,” ungkap Ella menjelaskan keunggulan fleksibilitas produknya. Pertimbangan ini juga muncul agar biaya lebih terjangkau bagi guru yang ingin menggunakan media alternatif selain kartu.

Kesuksesan tidak datang begitu saja. Ella dan timnya mempersiapkan segala kebutuhan lomba selama lima bulan penuh, dimulai dari April 2025. Mereka tidak hanya mengembangkan produk, tetapi juga menyusun artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan Inggris, membuat buku panduan dalam dua bahasa, mengurus Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga mempersiapkan dekorasi booth untuk perlombaan.

“Dalam produk ini developnya banyak. Kita develop ethno cardnya sendiri, kita develop ARnya, dan tentunya kita develop aplikasinya,” papar mahasiswa semester lima ini.

Bagi Ella, pencapaian di WICE bukanlah yang pertama. Perjalanan prestasinya dimulai sejak semester dua, ketika ia meraih sertifikasi setara Bronze Medal di ajang PEKSIMIDA (Pekan Seni Mahasiswa Daerah) Jawa Tengah cabang penulisan puisi. Prestasi berikutnya adalah Gold Medal dari WINTEX (World Invention and Technology Expo) di Indonesia Inventors Day yang diselenggarakan INNOPA.

Ella juga mendapatkan Beasiswa U.GO, beasiswa khusus untuk perempuan yang menjadi bukti pengakuan atas kerja keras dan dedikasinya.

“Semasa di MAN, pencapaian prestasinya tidak banyak,” akunya jujur tentang masa lalu. Namun masa kuliah menjadi titik balik yang mengubah segalanya. Anak keempat dari pasangan almarhum Bapak Sholikhan dan Ibu Nur Hidayati ini membuktikan bahwa masa lalu tidak menentukan masa depan.

Ketika ditanya tentang persiapan kemampuan bahasa Inggris untuk lomba internasional, Ella tersenyum. “Aku belajar bahasa Inggris sebenarnya kebanyakan dari lagu-lagu dan dari YouTube,” ungkapnya.

Alumni MAN 2 Kudus jurusan Bahasa ini mulai menyeriusi bahasa Inggris sejak kelas 11 hingga kini, terhitung empat tahun. “Aku belajar bukan dari buku, tapi dari kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Di luar prestasi akademiknya, Ella adalah sosok yang peduli pada sesama. Ia menjadi Co-founder Relawan Kasih, sebuah volunteer yang bergerak di bidang kemanusiaan, pendidikan, dan bahasa. Kegiatannya beragam seperti bermain dengan anak-anak panti asuhan, kerja bakti, camping, berbagi bunga, hingga berbagi takjil.

Sebagai seorang organisator sejati, Ella telah aktif berorganisasi sejak MAN, di mana ia pernah menjabat sebagai juru adat di Dewan Ambalannya. Di kampus, ia tergabung dalam Teater Tigakoma FKIP UMK dan UKM FIMA (Forum Ilmiah Mahasiswa). Bahkan di luar kampus, ia terus mengasah kemampuan seni perannya melalui Komunitas Keluarga Segitiga Teater.

Dengan segudang pengalaman, Ella berbagi empat tips berharga pertama, percayalah bahwa jika kamu mau, kamu pasti bisa. Di dunia ini tidak ada yang instan, jadi harus mau berkorban. Kedua, jangan pernah malu. “Pada akhirnya kita akan tiada dan tidak ada yang mengingat kita,” ujarnya mengingatkan untuk tidak terlalu memikirkan pendapat orang.

Ketiga, jangan takut melakukan hal yang pertama kali. Jangan takut memulai sesuatu yang baru. Keempat, percaya diri. “Kalau misalnya kamu tidak percaya pada diri kamu, gimana orang lain mau percaya?” tegasnya.

“Do it for the plot” moto hidup keduanya mencerminkan filosofi Ella dalam menjalani kehidupan. Setiap pengalaman, baik manis maupun pahit, adalah bagian dari cerita hidup yang terus ia tulis dengan tinta emas prestasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *