Membawa Budaya Kudus ke Malaysia, Sri Surachmi Jalani Lecturer Exchange di UiTM Perlis Malaysia

Ilma Mufaida
Sri SUrachmi, Dosen PBSI UMK ketika memperkenalkan Kota Kudus di Universitas Teknologi Mara (UiTM) kampus Arau, Cawangan Perlis, Malaysia
Dosen PBSI UMK Sri Surachmi melaksanakan kegiatan pengajaran, pengabdian, dan penelitian dalam program Lecturer Exchange di UiTM Arau, Perlis, Malaysia.

PERLIS, suaindonesia.com – Sri Surachmi, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus (UMK), menjalani pengalaman akademik internasional melalui program Lecturer Exchange ke Malaysia.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Universitas Teknologi MARA (UiTM) Kampus Arau, Cawangan Perlis, pada 7–17 Desember 2025. Selama program berlangsung, Surachmi menjalankan tiga tugas utama, yakni pengajaran, pengabdian kepada masyarakat, dan penelitian.

Pada bidang pengajaran, Surachmi berperan sebagai pensyarah, sebutan dosen di Malaysia. Ia mengajar Bahasa Inggris meskipun dengan waktu yang terbatas. Ia juga menjelaskan bahwa di UiTM tidak terdapat program studi bahasa secara spesifik, melainkan Program Pengkajian Bahasa yang mempelajari beberapa bahasa sekaligus, seperti Arab, Indonesia, dan Mandarin.

Dalam kegiatan pengabdian, Surachmi memperkenalkan falsafah dan budaya Kudus, seperti konsep Gusjigang, rumah adat, makanan khas daerah, Menara Kudus, serta tradisi Bulusan. Untuk praktik budaya, ia memilih membuat sirup parijotho karena dinilai lebih praktis untuk dibawa ke luar negeri.

“Untuk praktiknya saya membuat sirup parijotho karena paling mudah dibawa dibandingkan soto atau lentog. Saat itu kami juga mengenakan busana adat Kudus bermotif parijotho, dan saya membawa jenang,” ujar dosen kelahiran Ciamis tersebut.

Selain pengajaran dan pengabdian, Surachmi juga melaksanakan kegiatan penelitian yang menghasilkan luaran berupa artikel ilmiah serta modul pembelajaran bahasa. Namun, karena keterbatasan waktu, fokus utama diarahkan pada penyusunan artikel.

“Karena waktunya hanya sekitar sepuluh hari, jadi sementara fokus pada artikel,” jelas Surachmi yang gemar bepergian tersebut.

Tak hanya itu, Surachmi juga mendapat amanat sebagai narasumber dalam sebuah forum diskusi di kampus. Meski penugasan tersebut bersifat mendadak, ia tetap menjalaninya dengan penuh tanggung jawab dan menganggapnya sebagai pengalaman akademik yang berharga.

Sri Surachmi ketika mengajar di salah satu kelas di UiTM Malaysia

Menurutnya, salah satu keuntungan utama mengikuti program Lecturer Exchange adalah bertambahnya jejaring dan wawasan lintas budaya. “Saya mendapatkan banyak relasi, banyak teman, dan wawasan tentang budaya lain yang sebelumnya belum saya ketahui,” ungkapnya.

Selama berada di UiTM, Surachmi mengaku terkesan dengan fasilitas kampus, seperti keberadaan museum dan perpustakaan besar yang dilengkapi bilik ruang belajar sehingga mahasiswa dapat belajar dengan nyaman. Ia juga berkesempatan mengikuti kegiatan rutin kampus berupa jalan sehat sejauh lima kilometer dengan tema batik yang berlangsung meriah.

Program ini meninggalkan kesan mendalam bagi Surachmi. Selain karena sambutan hangat dari rektor dan para dosen yang terbuka untuk bekerja sama, ia juga menikmati kesempatan menjelajahi tempat baru. Mulai dari mengunjungi pusat perbelanjaan yang berbatasan langsung dengan Thailand hingga mencicipi berbagai kuliner khas setempat, seperti olahan mi kwetiau dan mi ratna yang bertekstur lembut dan menghadirkan cita rasa baru di lidahnya. (Satia Aisah Nur, Kayla Maylian Fadia Ihsan, Ilma Mufaida)

 

Ilma Mufaida
Author: Ilma Mufaida

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *