PATI, suaindonesia.com – Pagi itu Rabu 27 Mei 2026, suasana di Musholla An-Nur, Desa Cengkalsewu, tampak berbeda dari hari biasanya. Kumandang takbir yang menggema sejak fajar menjadi penanda datangnya Hari Raya Idul Adha sekaligus mengawali rangkaian kegiatan yang telah dinanti warga.
Halaman musholla perlahan dipenuhi jamaah yang datang bersama keluarga. Anak-anak berlarian mengenakan pakaian terbaik mereka, sementara para orang tua saling menyapa dan berjabat tangan. Di antara lantunan takbir yang bersahutan, hangatnya kebersamaan terasa menyelimuti lingkungan sekitar.
Shalat ied itu berjalan dengan khidmat, jamaah Musholla An-Nur langsung bergerak untuk menyantap makanan bersama ketika shalat ied sudah selesai dilaksanakan. Tradisi makan bersama setelah sholat ied ini memang sudah biasa dijalankan untuk mendapatkan berkah tersendiri. Usai perut terisi, tibalah saatnya yang dinanti yaitu prosesi pemotongan hewan kurban.
Agenda yang dinanti pun dimulai. Sebanyak 15 ekor kambing telah berjejer di halaman rumah Bapak Kamto selaku imam Musholla An-Nur sekaligus yang mengurus hewan-hewan kurban tersebut. Bapak Kamto berdiri dengan tenang untuk memimpin sekaligus mengeksekusi prosesi penyembelihan. Dengan pisau yang terasah tajam dan untaian doa yang tebal, satu demi satu prosesi berjalan dengan khidmat dan lancar.
Bapak Kamto tentu tidak sendirian, di sekelilingnya bapak bapak desa juga bersiap dengan cekatan membantu. Salah satunya ada Bapak Bendi dan Bapak Bagus Muhsin yang berbagi tugas mulai dari menenangkan hewan kurban, memegangi tali hingga proses menguliti.
Pemandangan menarik juga terlihat disekitar area penyembelihan. Beberapa pasang mata kecil tampak berkerumun menyaksikan proses kurban dengan penuh rasa ingin tahu. Tak jauh dari lokasi penyembelihan, kehadiran ibu-ibu juga sangat antusias membantu. Setelah selesai sesi penyembelihan, gilira para ibu-ibu yang mengambil peran penting.
Dengan cekatan, jari mereka memotong-motong daging kurban menjadi bagian-bagian kecil, menimbangnya, lalu membaginya kedalam kantong plastik yang siap untuk dibagikan kepada warga sekitar. Suara tawa dan obrolan ringan mengiri kesibukan mereka, tak ada raut lelah disana, yang ada hnya senyum merekah sejak pagi. Kehangatan dari kebersamaan ini dirasakan oleh salah satu warga yang terlibat.
“Seneng rasanya tiap tahun makin banyak para warga yang mampu berkurban, jadi warga sekitrar juga bisa dengan rata mencicipi enaknya daging kurban. Warga sekitar juga makin banyak yang membantu, anak-anak juga banyak yang antusias melihat, jadi rasa kebersamaannya benar-benar terasa,” ucap Inka, salah satu warga Desa Cengkalsewu yang ikut serta membantu membagikan daging kurban hari itu.












