

Suasana Aula MA Madarijul Huda pada 17 Mei 2026 terasa berbeda. Dalam rangkaian acara Khitobiyah yang diselenggarakan setiap tahun oleh LTLA (Lajnah Tathwir al-Lughah al-Ajnabiyah), sebuah pementasan drama musikal dari gabungan kelas X Sains dan X Kitab berhasil menyita perhatian penonton. Berbeda dari penampilan lain yang berisi pidato, lagu, dan pertunjukan seni dalam bahasa Arab, Inggris, maupun Indonesia, drama musikal kali ini mengangkat kisah seorang aktivis buruh perempuan yang namanya masih menjadi simbol perjuangan hak asasi manusia di Indonesia: Marsinah.
Khitobiyah sendiri merupakan acara kolaborasi antarkelas yang menjadi wadah bagi para siswa untuk menampilkan kemampuan berbahasa sekaligus kreativitas mereka di bidang seni. Namun, di tengah berbagai penampilan yang menghibur, kisah Marsinah hadir membawa suasana yang lebih reflektif.
Penulis naskah drama tersebut, Salsabila Zakia Putri dari kelas X Sains, mengaku memilih kisah Marsinah karena merasa kasus tersebut masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Tepat pada 08 Mei 2026, genap 33 tahun sejak Marsinah ditemukan meninggal dunia secara misterius setelah memperjuangkan hak-hak buruh di tempatnya bekerja. Menurutnya, persoalan ketimpangan kesejahteraan, upah yang tidak sebanding dengan beban kerja, hingga penyalahgunaan kekuasaan masih menjadi masalah yang dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
“Kasus Marsinah menurutku benar-benar relate dengan keadaan sekarang. Masih banyak orang yang harus bekerja keras dengan gaji yang jauh dari kata sejahtera. Di sisi lain, ada pihak-pihak yang memiliki kekuasaan dan kekayaan tetapi justru menyalahgunakannya,” ungkap Salsabila.
Dalam proses penyusunan naskah, ia tidak hanya bergantung pada satu sumber. Berbagai artikel, video YouTube, hingga konten edukatif di media sosial menjadi bahan untuk memahami kisah Marsinah dari beragam sudut pandang. Tujuannya adalah menghadirkan cerita yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menyampaikan emosi dan pesan yang kuat kepada penonton.
Setelah melakukan riset, bentuk pelanggaran HAM yang paling menonjol dalam kasus Marsinah, menurutnya, adalah ketidakadilan hukum. Kasus kematian Marsinah hingga kini masih menyisakan banyak tanda tanya dan menjadi salah satu kasus yang terus diperbincangkan dalam diskusi mengenai hak asasi manusia di Indonesia.
“Yang paling terlihat itu ketidakadilan hukum. Dari tahun 1993 sampai sekarang, Marsinah belum benar-benar mendapatkan keadilan. Selain itu ada kekerasan, penyiksaan, dan hak untuk menyuarakan pendapat yang seolah dicabut begitu saja,” jelasnya.
Pementasan tersebut ternyata mendapat respons positif dari para penonton. Beberapa guru dan kakak kelas mengaku tersentuh sekaligus tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang sosok Marsinah. Bahkan setelah pertunjukan selesai, diskusi mengenai kasus tersebut masih berlanjut di luar panggung.
“Awalnya mereka bilang dramanya seru, lalu mulai bertanya tentang Marsinah dan kisah hidupnya. Ada yang berkata, ‘Berarti kasusnya sampai sekarang masih belum terungkap, ya?’ Dari situ saya merasa mereka benar-benar terhubung dengan cerita yang kami tampilkan,” tuturnya.
Lebih dari sekadar hiburan, drama musikal ini menjadi ruang refleksi bagi para penonton untuk melihat kembali berbagai persoalan sosial yang masih terjadi hingga hari ini. Kisah Marsinah tidak hanya berbicara tentang seorang buruh perempuan yang kehilangan nyawanya, tetapi juga tentang keberanian seseorang dalam memperjuangkan hak yang seharusnya dimiliki setiap manusia.
Ketika ditanya pesan apa yang mungkin akan disampaikan Marsinah jika masih hidup dan dapat berbicara kepada generasi muda saat ini, Salsabila memberikan jawabannya sendiri.
“Untuk kalian, generasi muda, generasi di kehidupan yang seharusnya sudah lebih baik. Jika kalian merasa kecil, jangan menyerah. Perjuangkan apa yang seharusnya kalian dapatkan. Hargai diri kalian sendiri, pekerjaan kalian, dan pendidikan yang telah memberi banyak pelajaran kepada kalian. Keberanian bukan berarti membenci. Jadi, jangan pernah takut menggunakan suara untuk sesuatu yang benar.”
Melalui panggung sederhana di Aula MA Madarijul Huda, nama Marsinah kembali hidup. Bukan hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai pengingat bahwa suara kebenaran tidak boleh berhenti meski waktu terus berjalan.




