KUDUS, suaindonesia.com- Di balik kesederhanaan seorang gadis kelahiran Jepara 30 Juli 2004, terpatri semangat juang yang luar biasa. Puput Dwi Lestari, mahasiswa semester 7 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus, membuktikan bahwa semangat perjuangan tidak akan menghinati hasil.
Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Parnawi dan Sumiyati dari Kalongan, Batealit, Jepara ini berhasil membawa pulang medali perunggu dari ajang kompetisi internasional INOVA dalam INDONESIA INVENTORS DAY (IID) yang digelar pada 10 September 2025 di Jakarta Selatan.
Prestasi gemilang Puput kali ini bukan sekadar trofi tambahan dalam koleksinya. Bersama empat rekan satu timnya dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMK, ia menciptakan sebuah inovasi bernama “Jawara” singkatan yang merepresentasikan wayang rotan dengan audio sensorik untuk anak disabilitas tunanetra.
“Kami memilih rotan karena lebih bertekstur untuk memudahkan anak-anak tunanetra,” ungkap Puput menjelaskan keunikan produk ciptaannya. Berbeda dengan wayang kulit pada umumnya yang permukaannya licin dan sulit diraba, wayang rotan Jawara dirancang khusus agar teksturnya dapat dirasakan dengan jelas oleh anak-anak tunanetra.
Inovasi tidak berhenti pada pemilihan material saja. Wayang Semar yang menjadi prototipe pertama mereka dilengkapi dengan sensor auditorik yang berisi perkenalan wayang, sifat-sifat, hingga karakter tokoh pewayangan. “Dengan media ini, pembelajaran anak tunanetra dilatih dari dua aspek: tekstur dan sensor auditorik,” jelas mahasiswa penerima Beasiswa KIP-K ini.
Kesuksesan tidak diraih dalam semalam. Tim yang diketuai oleh Ayu Cahyaningrum dari program studi Bimbingan dan Konseling ini mempersiapkan lomba selama tiga bulan penuh. Selain Puput dan Ayu, tim juga beranggotakan Yahya Syarof (PGSD), Muhammad Saiful Rohman (PBI), dan Reihana Dwi Avianti (Pendidikan Matematika).
Proses persiapan mencakup pembuatan media, implementasi, evaluasi, hingga penyusunan artikel ilmiah. “Saya yang membuat artikelnya,” ujar Puput. Artikel tersebut disusun menggunakan metode Research and Development (RnD) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation).
Lebih dari sekadar media pembelajaran, Jawara membawa misi mulia yaitu menanamkan pendidikan karakter dan meningkatkan kepercayaan diri anak tunanetra melalui pengenalan tokoh-tokoh wayang dengan nilai-nilai luhurnya.
Prestasi di IID bukanlah pencapaian pertama Puput. Perempuan yang berpegang pada moto hidup “Ibu melahirkan ku ke dunia dengan mempertaruhkan nyawa, jadi tidak mungkin aku tidak ada artinya” ini telah mengukir berbagai prestasi membanggakan. Di tingkat perguruan tinggi, prestasi internasionalnya semakin gemilang. Puput berhasil meraih Silver Medal di ajang IYSA ISIF di Bali, Silver Medal sekaligus di ISO, dan kini Bronze Medal di INOVA-IID. Belum lagi keberhasilannya lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan PPK Ormawa.
Kesibukan akademik dan kompetisi tidak menyurutkan semangat Puput dalam berorganisasi. Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMAPRO) PBSI UMK selama dua periode – periode pertama sebagai anggota divisi Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) dan periode kedua sebagai Sekretaris satu.
Selain itu, ia juga bergabung pada organisasi Nasional Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Se-Indonesia. Kisah Puput membuktikan bahwa dengan kreativitas, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama, mahasiswa dapat menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.












