Kampus  

Belajar Bahasa Melalui Budaya: Kisah Isti Mengajar BIPA di Thailand

Kayla Maylian Fadia Ihsan
Prih Nur Fia Istiqamah yang berpotret bersama murid-murid yang diajar di Islam Wittaya Shcool, Thailand

 

SONGKHLA, suaindonesia.com – Kesempatan keluar negeri tidak boleh terlewat, begitulah awal mula Prih Nur Fia Istiqomah, atau yang kerap disapa Isti itu memulai perjalanannya menuju Negeri Gajah Putih, Thailand. Perjalanan yang tak mudah demi pendidikan dan menggalang pengalaman.

Isti merupakan mahasiswi dari Progdi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Universitas Muria Kudus yang mengikuti program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) ke luar negeri. Program itu dilaksanakan selama tiga pekan, mulai tanggal 3-27 November 2025, di Islam Wittaya School, Saba Yoi, kota Songkhla, Thailand.

Sebelumnya Isti sudah menargetkan tujuannya untuk merasakan pengalaman ke luar negeri sebelum lulus dari Universitas. Berkat tujuan yang mantap dan keinginan yang kuat untuk mencoba hal baru, Isti tak ragu untuk segera mendaftarkan diri ketika mendengar kesempatan exchange ke beberapa daerah di luar negeri.

“Motivasiku karena aku suka experience baru, aku pengen punya pengalaman baru, dan kebetulan juga aku belum pernah ke luar negeri, jadi kesempatan banget kan ketika ada informasi exchange ke beberapa negara di Asia Tenggara,” tutur mahasiswi semester 7 itu.

Pengalaman baru serta hal-hal baru merupakan tujuan utama yang diniatkan Isti ketika di Thailand. PLP di luar negeri yang dilakukan Isti adalah untuk mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Hal itu membuka tujuan dan pandangan baru bagi Isti mengenai BIPA.

“Tugasku mengajar Bahasa Indonesia ya, mengajar BIPA. Ada ketertarikan sendiri. Akhirnya aku mulai merancang kedepannya, asyik juga nih jadi pengajar BIPA,” jelas Isti.

Namun, perjalanan Isti tidak selamanya mulus sesuai bayangan. Begitu menginjakkan kaki di Songkhla, ia langsung berhadapan dengan realita perbedaan budaya, seperti bahasa, makanan, dan habit masyarakat di sana.

Cara isti mengatasi perbedaan tersebut ialah dengan menghadapinya sambil belajar saat itu juga.
“Aku berjalan aja, aku nyoba aja, ketika ada masalah, aku nyari solusi ketika itu juga,” tegasnya mantap.

“Sampai sana kaget nih, kok mereka full pake bahasa Thailand, sedangkan aku belum belajar banyak bahasa Thailand, dan asing banget kan. Cara aku memitigasi itu ya aku sedia google translate ke mana-mana,” tambahnya.

Karena kendala tersebutlah Isti menjadi tertantang untuk belajar menghadapi sebuah kendala terutama bahasa, karena menurutnya bahasa ialah sebuah habit.

Bahasa juga menjadi tantangan Isti dalam mengajar di kelas, karena siswa di sana juga full menggunakan bahasa Ibu mereka, yaitu bahasa Thailand.

Strategi yang diambil pun sama, dengan memanfaatkan google transalte untuk berkomunikasi dengan para siswa. Untungnya juga, disetiap kelas yang diajarnya terdapat satu mahasiswa yang cukup bisa berbahasa melayu.

Prinsip strategi yang ditekankan Isti ialah sama-sama belajar.
“Strateginya itu lebih ke gini, ayo kamu belajar bahasaku, aku belajar bahasamu, jadi kita sama-sama belajar. Akhirnya kita nyambung karena mereka ngajari aku dan aku juga ngajari mereka, ada simbiosis mutualisme,” paparnya mantap.

Media pembelajaran yang digunakan saat ia mengajar di sana, ia lebih sering menyampaikan melalui video, seperti tarian Indonesia, dan lagu daerah Indonesia. Isti juga menerangkan materi surat menggunakan kertas karton, kertas lipat atau biasa disebut kertas warna warni.

Tentunya Isti memiliki kesan dari Negeri Gajah Putih. Adapun pengalaman yang ia sukai saat di sana.

“Ramah, mereka itu selalu excited untuk memperkenalkan budaya mereka kepada kita, mereka juga sering menawarkan masakan khas Thailand untuk kita,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *