Religi  

Haul Al-Imam Abul Hasan Assyadzali RA, Jam’iyah Thoriqoh Syadzaliyyah Kudus Berlangsung Khidmat

Nihlah Adilla

KUDUS, suaindonesia.com – Ratusan jamaah dari berbagai daerah memadati Gedung Jam’iyyah Thoriqoh Syadzaliyyah Garung Lor Kudus (Barat YAKIS) pada Kamis, (30/4/2026). Mereka hadir untuk mengikuti Pengajian Umum dan Haul Akbar Al Imam Abul Hasan Ali Assyadzali RA. Kegiatan yang digelar setiap tahun tersebut menjadi momentum bagi para jamaah untuk mengenang perjuangan dan keteladanan Al Imam Abul Hasan Ali Assyadzali RA., sekaligus mempererat tali silaturahmi antaranggota jamaah.

Sejak sebelum acara dimulai, kawasan sekitar lokasi sudah ramai oleh kedatangan para tamu. Sebagian jamaah datang bersama rombongan menggunakan bus, mobil pribadi, maupun kendaraan roda dua. Mereka tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia. Di dalam gedung, para jamaah duduk berbaris dengan tertib sambil menunggu acara dimulai.

Tepat pukul 12.00 WIB, acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang berlangsung khidmat. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan tahlil dan doa bersama untuk mengenang jasa-jasa Al Imam Abul Hasan Ali Assyadzali RA. Suasana semakin khusyuk ketika seluruh jamaah larut dalam lantunan doa yang dipanjatkan bersama. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan panitia dan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh KH. Abdul Qoyyum atau yang akrab disapa Gus Qoyyum dari Rembang.

Dalam ceramahnya, Gus Qoyyum mengajak jamaah untuk meneladani akhlak para ulama terdahulu, menjaga persatuan umat, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah dan amalan yang istiqamah. Pesan-pesan tersebut disambut dengan penuh perhatian oleh para jamaah yang memenuhi area acara.

Di tengah suasana haul yang penuh keberkahan, terdapat sebuah kisah yang menarik perhatian para jamaah. Kisah tersebut berkaitan dengan kehadiran Habib Luthfi bin Yahya yang sejak awal dinantikan oleh banyak peserta haul. Kehadiran beliau menjadi salah satu momen yang paling ditunggu karena dikenal sebagai ulama yang memiliki kedekatan dengan masyarakat serta sering memberikan nasihat yang menyejukkan.

Hasil wawancara kami di kalangan panitia dan jamaah, Habib Luthfi sebenarnya telah berencana berangkat dari Pekalongan sejak pukul 10 pagi. Rencana tersebut dibuat agar beliau dapat tiba di Kudus tepat waktu dan memiliki kesempatan untuk bertemu langsung dengan para jamaah yang hadir. Namun, padatnya aktivitas dakwah dan berbagai agenda yang beliau jalani sebelumnya membuat kondisi fisik beliau kelelahan.

Dalam keadaan tersebut, Habib Luthfi akhirnya tertidur sebelum memulai perjalanan menuju Kudus. Para bodyguard yang mendampingi beliau mengetahui bahwa jadwal keberangkatan sudah semakin dekat. Meski demikian, mereka tidak berani membangunkan beliau karena melihat kondisi beliau yang sedang beristirahat. Mereka memilih menunggu hingga Habib Luthfi bangun dengan sendirinya.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya Habib Luthfi terbangun sekitar pukul dua siang. Setelah mengetahui waktu yang sudah cukup siang, beliau langsung menanyakan alasan mengapa dirinya tidak dibangunkan. Dengan nada lembut dan tanpa menunjukkan kemarahan, beliau berkata kepada para bodyguard:

“Loh, jam 10 kuwi mau sakjane ki meh reng Kudus, kok malah gak mbok gugah?”

Ucapan sederhana tersebut kemudian menjadi perbincangan hangat di kalangan jamaah. Banyak yang merasa tersentuh karena perkataan itu menunjukkan perhatian besar beliau kepada masyarakat yang telah menunggu kehadirannya. Alih-alih menyalahkan keadaan atau mencari alasan, beliau justru menunjukkan keinginan kuat untuk tetap hadir dan bertemu dengan jamaah.
Bagi para jamaah, peristiwa tersebut menjadi gambaran nyata tentang kerendahan hati seorang ulama. Meskipun memiliki jadwal yang padat dan usia yang tidak lagi muda, Habib Luthfi tetap berusaha memenuhi undangan dan menyempatkan diri hadir di tengah masyarakat. Sikap beliau mencerminkan rasa tanggung jawab, kepedulian, serta kecintaan kepada umat.

Ketika akhirnya tiba di lokasi acara sekitar pukul 17.00, Habib Luthfi disambut dengan penuh kegembiraan oleh para jamaah yang masih menunggu beliau. Banyak di antara mereka yang tetap bertahan hingga beliau datang. Kehadiran beliau menambah semarak sekaligus keberkahan acara haul yang telah berlangsung sejak siang hari. Para jamaah tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan hingga acara selesai.

Melalui Haul Akbar Al Imam Abul Hasan Ali Assyadzali RA. para jamaah tidak hanya memperoleh ilmu dan nasihat keagamaan, tetapi juga mendapatkan pelajaran berharga dari teladan para ulama. Kisah sederhana yang dialami Habib Luthfi menjadi pengingat bahwa kelembutan sikap, tanggung jawab, dan kerendahan hati merupakan nilai-nilai penting yang patut diteladani dalam kehidupan sehari-hari.

Acara haul pun ditutup dengan doa bersama. Para jamaah meninggalkan lokasi dengan membawa kesan mendalam, bukan hanya karena rangkaian acara yang berlangsung khidmat, tetapi juga karena pelajaran akhlak yang tercermin dari sosok beliau Maulana Al- Habib Luthfi bin Yahya. Kisah tersebut menjadi bagian yang akan terus dikenang oleh para jamaah yang hadir pada hari itu

Nihlah Adilla
Author: Nihlah Adilla

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *