Kuliah Sambil Bekerja, Inaayatul Chusna Jadi Wisudawan Terbaik PBSI UMK dengan IPK 3,99

Tia Amanda Silfiana
Inaayatul Chusna, wisudawan terbaik Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus (UMK), berfoto usai mengikuti wisuda di Auditorium UMK, Rabu (21/10/2026).

KUDUS, suaindonesia.com – Jauh sebelum namanya tercatat sebagai wisudawan terbaik Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muria Kudus (UMK), Inaayatul Chusna telah mengenal arti bekerja.

Ia pernah berjualan baju di pasar, memberikan les kepada anak-anak sekolah, hingga bekerja sebagai barista di sebuah kafe di Kudus ketika menjalani kuliah.

Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan perempuan kelahiran Kudus, 2 Juni 2002, yang pada Wisuda Universitas Muria Kudus ke-77 Periode Oktober 2026 meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99.

“Selamat kepada Inaayatul Chusna atas prestasinya sebagai wisudawan terbaik PBSI UMK Periode Oktober 2026. Semoga pencapaian ini menjadi bekal untuk terus berkarya, mengembangkan potensi diri, dan menginspirasi mahasiswa lain bahwa kerja keras, ketekunan, serta semangat belajar dapat mengantarkan seseorang meraih masa depan yang gemilang,” ujar Dr. Muhammad Noor Ahsin, Selaku Ketua Program Studi PBSI UMK.

Lulusan MA NU Muallimat Kudus tersebut membuktikan bahwa bangku kuliah bukan satu-satunya ruang untuk belajar. Di luar kelas, ia berhadapan dengan tanggung jawab pekerjaan, tuntutan waktu, dan kebutuhan untuk terus mengembangkan diri.

Perjalanan Inaayatul tidak dibangun dari kisah yang sepenuhnya mudah. Ia mengakui, menjalani kuliah sambil bekerja kerap membuatnya lelah. Ada saat ketika keraguan, ketakutan, dan rasa tidak percaya diri muncul. Namun, ia memilih untuk terus melangkah, menyelesaikan pendidikan, dan memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk tumbuh.

“Motivasi terbesar saya untuk kuliah terlahir dari keinginan saya untuk menghargai diri saya sendiri,” ungkap Inaayatul.

Kalimat itu menjadi salah satu kunci untuk memahami pencapaiannya. IPK 3,99 bukan sekadar angka di akhir masa studi, melainkan hasil dari proses akademik yang berjalan berdampingan dengan pengalaman kerja dan beragam aktivitas pengembangan kompetensi.

Merawat Mimpi

Sebelum menjadi mahasiswa PBSI UMK, Inaayatul telah bekerja menjual pakaian di pasar dan memberikan les kepada anak-anak sekolah. Ketika kuliah, ia juga pernah bekerja sebagai barista di sebuah kafe di Kudus.

Pengalaman bekerja sejak sebelum kuliah mempertemukannya dengan tanggung jawab yang tidak selalu dapat ditunda. Sementara itu, sebagai mahasiswa, ia harus mengikuti perkuliahan, menyelesaikan tugas, dan menuntaskan skripsi. Dua dunia tersebut menuntutnya untuk menentukan prioritas dan menjaga konsistensi.

Inaayatul tidak menutupi bahwa proses itu terkadang menguras energi. Ia bahkan mengaku pernah mengalami burnout. Meski demikian, ia berusaha tidak membiarkan kelelahan menjadi alasan untuk menghentikan langkah.

Salah satu caranya adalah membuat daftar tugas melalui aplikasi catatan di telepon genggam. Dengan mencatat pekerjaan yang perlu diselesaikan, ia berupaya menjaga fokus dan mengatur prioritas. Ketika merasa penat, ia memberi waktu bagi dirinya untuk beristirahat dan melakukan kegiatan yang disukai.

Membaca buku dan memotret menjadi dua aktivitas yang dekat dengan kesehariannya. Ia juga sesekali bepergian atau melakukan hal sederhana yang dapat membantu memulihkan suasana hati.

Baginya, kemampuan mengelola diri sama pentingnya dengan menyelesaikan pekerjaan. Tidak semua keadaan dapat dikendalikan, tetapi ia berusaha menentukan respons terbaik terhadap situasi yang dihadapi.

“Saya memilih untuk terus berproses dengan tekad kuat dan dedikasi penuh mengejar pendidikan,” katanya.

Memilih Kuliah

Keputusan Inaayatul melanjutkan pendidikan di PBSI UMK berangkat dari kesadarannya untuk memilih bidang studi yang sesuai dengan minat. Ia ingin mempelajari bahasa Indonesia secara lebih mendalam, mulai dari struktur kebahasaan hingga karya sastra.

Ketertarikannya juga dipengaruhi oleh visi keilmuan program studi yang memadukan penguasaan bahasa dan sastra dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi serta penghargaan terhadap nilai budaya nasional.

Selama kurang lebih empat tahun menempuh pendidikan, ia memperoleh pengalaman akademik dan keterampilan praktis yang dirasakannya bermanfaat untuk menghadapi dunia kerja. Proses tersebut tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui praktik, kegiatan lapangan, dan pendampingan dosen.

Salah satu pengalaman akademik yang paling berkesan baginya adalah mengikuti mata kuliah Konten Kreator Ekosastra. Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga memproduksi video secara langsung.

Mereka mengeksplorasi hubungan antara sastra, manusia, dan lingkungan alam, kemudian mengemas gagasan itu menjadi konten kreatif yang edukatif.

Bagi Inaayatul, pembelajaran tersebut mempertemukan kemampuan memahami teks, mengembangkan gagasan, dan memanfaatkan media digital. Ia mendapat kesempatan untuk mengubah pemahaman teoretis menjadi karya yang dapat dinikmati khalayak.

Pengalaman itu sekaligus memperlihatkan bahwa keterampilan lulusan PBSI dapat diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, penulisan, komunikasi, dan produksi konten kreatif.

Kampus Mengajar

Pengalaman lain yang turut membentuk cara pandangnya adalah keterlibatannya dalam Program Kampus Mengajar Angkatan 7 pada 2024. Melalui program tersebut, Inaayatul memperoleh kesempatan belajar dan berkontribusi di SD Negeri 3 Blimbing Kidul, Kudus.

Di sekolah itu, ia berhadapan langsung dengan karakter murid yang beragam. Pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk menguji pemahamannya tentang pembelajaran sekaligus belajar dari para guru mengenai situasi nyata di kelas.

Baginya, salah satu pengalaman paling berharga adalah ketika murid dapat memahami pelajaran tanpa merasa terbebani. Ia juga menikmati proses bertukar pendapat dengan guru dan rekan satu tim untuk mendiskusikan kegiatan yang dijalankan.

Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa mengajar tidak cukup hanya dengan menguasai materi. Seorang pendidik perlu memahami karakter murid, membangun komunikasi, dan mencari cara agar pembelajaran dapat diterima dengan baik.

Meski kegiatan di sekolah tidak selalu berjalan mulus dan terkadang menguras tenaga, Inaayatul justru melihat tantangan sebagai bagian dari proses belajar. Ia merasa memperoleh pengalaman berharga dari dukungan, saran, dan nasihat para guru.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Sumiati selaku kepala sekolah, para guru SD Negeri 3 Blimbing Kidul, serta rekan-rekan satu tim yang mendukung pelaksanaan program tersebut.

Pengalaman Kampus Mengajar memperkaya pemahamannya tentang dunia pendidikan. Ia tidak hanya belajar menyampaikan materi, tetapi juga mengembangkan empati dan kemampuan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki karakter berbeda.

Liputan dan Magang

Di luar pengalaman mengajar, Inaayatul juga memperluas keterampilannya melalui magang jurnalistik di Murianews dan magang kepenyiaran di Radio Maggala Kudus. Kedua kegiatan tersebut mempertemukannya dengan praktik profesional yang berbeda dari suasana perkuliahan.

Saat menjalani magang jurnalistik, ia belajar melakukan peliputan, mencari informasi terbaru, dan menyusun berita berdasarkan fakta di lapangan. Proses tersebut melatih kepekaannya terhadap peristiwa di sekitar sekaligus mengasah keterampilan menulis yang telah dipelajari selama kuliah.

Sementara itu, magang kepenyiaran memberinya kesempatan mempraktikkan keterampilan berbicara di depan publik. Ia belajar memperhatikan artikulasi, intonasi, kedisiplinan, dan cara membawakan berita maupun materi siaran agar terdengar jelas dan menarik.

Dua pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa pengetahuan kebahasaan tidak berhenti pada teori. Kemampuan memilih kata, menyusun informasi, menyampaikan pesan, dan berkomunikasi dengan baik juga dibutuhkan dalam lingkungan kerja profesional.

Pengalaman di bidang pendidikan, jurnalistik, dan kepenyiaran akhirnya saling melengkapi. Dari setiap kegiatan, Inaayatul belajar mengembangkan cara berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, kepercayaan diri, dan keterampilan berkomunikasi.

“Setiap tahapan tersebut saling melengkapi hingga membentuk kapasitas diri yang mandiri, percaya diri, dan kompeten,” ujar Chusna.

Rasa Syukur

Meraih IPK 3,99 menjadi pencapaian yang membanggakan bagi Inaayatul. Namun, ia tidak memandang keberhasilan tersebut sebagai hasil perjuangan seorang diri.

Ia mengapresiasi para dosen PBSI UMK yang telah memberikan ilmu, motivasi, dan pendampingan sejak awal perkuliahan hingga penyelesaian skripsi. Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Muhammad Noor Ahsin dan Agus Darmuki selaku dosen pembimbing skripsinya.

Dukungan keluarga juga memiliki tempat penting dalam perjalanan pendidikannya. Inaayatul menyebut kedua orang tuanya, Jamiatun dan A. Mundhofir, sebagai sosok yang terus menguatkannya melalui doa dan dukungan.

Di tengah berbagai kesibukan, dukungan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan yang ditempuhnya memiliki arti penting bagi dirinya dan masa depannya.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada dirinya sendiri karena telah bertahan melalui proses yang tidak selalu mudah. Baginya, keberhasilan bukan berarti tidak pernah merasa takut atau lelah, melainkan tetap berusaha melangkah ketika menghadapi kesulitan.

Setelah menyelesaikan studi dan meraih predikat wisudawan terbaik PBSI UMK dengan IPK 3,99, Inaayatul berencana bekerja untuk memperoleh pengalaman profesional sebanyak mungkin. Ia juga memiliki keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya ketika waktu dan kesempatan memungkinkan.

Ia berharap pengalamannya dapat menjadi dorongan bagi mahasiswa lain yang harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan aktivitas pengembangan diri.

Pesannya sederhana, setiap orang memiliki tanggung jawab dan tantangan yang berbeda, tetapi tetap perlu mengambil peran dalam menentukan arah hidupnya sendiri.

“Tidak ada yang bisa mengubah diri kita selain diri kita sendiri. Jadi, don’t waste your time,” pesannya. Ia mengajak mahasiswa untuk menjalani berbagai kesempatan dengan anggun, cekatan, dan fleksibel.

Bagi Inaayatul Chusna, IPK 3,99 merupakan salah satu capaian penting dalam perjalanan pendidikan. Namun, pengalaman bekerja, belajar di sekolah, melakukan peliputan, dan berlatih di ruang siaran telah memberinya bekal yang tidak hanya tercermin dalam angka akademik.

Wisuda ke-77 Universitas Muria Kudus menjadi penanda berakhirnya satu tahap pendidikan sekaligus terbukanya kesempatan baru. Setelah melalui perjalanan yang menggabungkan pekerjaan, perkuliahan, dan pengembangan diri, Inaayatul kini melangkah ke fase berikutnya dengan membawa pengetahuan, pengalaman, dan keinginan untuk terus belajar.

Tia Amanda Silfiana
Author: Tia Amanda Silfiana

Hai, saya adalah seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muria Kudus, yang ingin selalu belajar untuk menjadi lebih baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *