Lulus Tanpa Skripsi, Dua Mahasiswa PBSI UMK Tuntaskan Studi Lewat Novel

Tia Amanda Silfiana
Foto wisuda Faradilla Budi Anggraini dan Zohanith Fatwa A’yun Nadhif, usai mengikuti wisuda di Auditorium UMK, Rabu (21/10/2026).

KUDUS, suaindonesia.com – Tidak semua perjalanan menuju gelar sarjana harus berakhir di meja sidang skripsi. Bagi Faradilla Budi Anggraini dan Zohanith Fatwa A’yun Nadhif, dua mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muria Kudus (UMK), perjalanan itu justru dituntaskan melalui karya sastra berupa novel.

Faradilla menghadirkan novel berjudul Rumah Tanpa Suara, sedangkan Zohanith menulis Malefica. Keduanya memilih jalur penulisan novel sebagai tugas akhir, dengan capaian indeks prestasi kumulatif (IPK) masing-masing 3,91 dan 3,97.

Setelah menempuh perkuliahan, kelulusan menjadi momen yang membahagiakan bagi keduanya. Namun, ada hal lain yang membuat perjalanan mereka bermakna, kegemaran membaca dan ketertarikan terhadap sastra akhirnya berkembang menjadi karya yang menjadi bagian dari pencapaian akademik.

“Senang sekali karena setelah kuliah akhirnya bisa lulus juga. Alhamdulillah lulus punya karya berupa Novel,” ungkap Faradilla saat menceritakan perasaannya setelah menyelesaikan studi di PBSI UMK.

Bagi Faradilla, ketertarikan terhadap sastra menjadi salah satu alasan memilih PBSI UMK. Ia ingin mendalami bidang yang dekat dengan kegemarannya membaca novel. Ketika tiba saat menentukan tugas akhir, kesempatan menulis novel menjadi pilihan yang sesuai dengan minatnya.

Faradilla mengaku telah mendapatkan informasi bahwa tugas akhir mahasiswa tidak hanya berbentuk skripsi sejak semester tiga. Informasi tersebut memberinya kesempatan untuk mempertimbangkan bentuk karya yang ingin dikembangkan hingga akhir masa studi.

Keinginan memiliki karya sendiri yang dapat dibaca banyak orang kemudian menguatkan pilihannya.

Novel Rumah Tanpa Suara mengangkat tema pencarian jati diri di tengah kurangnya komunikasi dalam keluarga. Cerita tersebut berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga pembaca berpeluang menemukan pengalaman yang terasa akrab dengan kehidupan mereka sendiri.

Dalam proses kreatifnya, Faradilla memulai dengan menyusun kerangka cerita atau outline. Ia merancang unsur intrinsik dan ekstrinsik, kemudian mengembangkan cerita bab demi bab berdasarkan rancangan tersebut.

Proses itu tidak selalu berjalan mudah. Ada saat-saat ketika ia kehilangan ide untuk melanjutkan adegan berikutnya. Untuk mengatasi kebuntuan, Faradilla membaca karya lain atau mengamati berbagai peristiwa di sekitarnya. Dari kegiatan tersebut, ia berusaha menemukan inspirasi untuk mengembangkan cerita.

Melalui novel itu, Faradilla ingin menyampaikan pentingnya komunikasi dalam keluarga dan kehidupan sosial. Ia juga menekankan arti lingkungan pertemanan yang saling mendukung serta proses mengikhlaskan sesuatu yang tidak mudah dilepaskan.

Inspirasi penulisannya berasal dari dirinya sendiri dan sejumlah bacaan yang pernah dinikmati. Pengalaman membaca tidak berhenti sebagai kegiatan menikmati cerita, tetapi menjadi bekal untuk membangun kisah dengan gagasan dan sudut pandangnya sendiri.

Selama kuliah, Faradilla mengaku tidak banyak mengikuti kegiatan organisasi mahasiswa. Meski demikian, ia memperoleh pengalaman melalui program magang pada semester lima di Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta dan Suara Merdeka Semarang.

Pengalaman akademik tersebut berjalan beriringan dengan prosesnya mengenali minat terhadap bahasa dan sastra. Pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan turut membantunya mengembangkan naskah, terutama dalam memperluas pilihan kosakata dan menjaga keterhubungan antarkalimat.

Bagi Faradilla, Rumah Tanpa Suara merupakan langkah awal. Ia berharap masukan terhadap karya pertamanya dapat menjadi bahan evaluasi untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik pada masa mendatang.

Berbeda dengan Faradilla yang mengangkat persoalan komunikasi keluarga, Zohanith memilih tema aksi-kriminal melalui novel Malefica. Karya tersebut menyoroti ambisi dan dendam seorang kakak setelah kematian adiknya yang berkaitan dengan persoalan ketidakadilan hukum.

Ketertarikan Zohanith terhadap sastra telah tumbuh sejak sebelum memasuki bangku kuliah. Saat masih bersekolah di madrasah aliyah negeri (MAN), ia pernah membuat novelet sebagai tugas proyek. Ia juga gemar membaca novel melalui aplikasi Wattpad dan mengoleksi novel-novel remaja.

Kebiasaan membaca dan pengalaman mengarang itu membuatnya semakin tertarik mengembangkan cerita melalui imajinasi. Ketika harus menentukan tugas akhir, ia sempat memilih skripsi. Namun, setelah mempertimbangkan minat dan pengalamannya, ia memutuskan beralih ke jalur penulisan novel.

“Saya merasa lebih terbiasa mengarang bebas dari referensi cerita-cerita yang pernah saya baca,” ungkap Zohanith mengenai alasannya memilih novel sebagai tugas akhir.

Dalam Malefica, Zohanith mengangkat kegelisahan tentang situasi ketika seseorang merasa tidak mendapatkan keadilan. Ia tertarik pada fenomena ketika korban justru dituduh sebagai pelaku, sementara pihak yang melakukan kesalahan dapat dipandang sebagai korban.

Gagasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi cerita tentang perjuangan, dendam, dan upaya memperoleh keadilan bagi orang yang dicintai. Selain berfokus pada perjuangan seorang kakak, novel itu juga memuat kisah dendam seorang anak atas kematian orang tuanya akibat kasus pembunuhan.

Zohanith memadukan unsur aksi dan kriminal dengan beberapa adegan komedi serta nuansa dark romance di antara dua tokoh utama. Perpaduan tersebut menjadi bagian dari upayanya menghadirkan cerita dengan dinamika yang beragam.

Inspirasi penulisan berasal dari novel aksi, film, drama Korea bergenre aksi, pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari, dan imajinasinya sendiri. Berbagai sumber tersebut ia olah menjadi rangkaian adegan dan alur cerita.

Meski demikian, menyelesaikan novel bukan pekerjaan sederhana. Zohanith mengaku menghadapi tantangan ketika harus menjaga kesinambungan cerita dari satu bab ke bab berikutnya. Ia juga perlu memperhatikan penggunaan kata dan kaidah penulisan agar naskahnya enak dibaca.

Ketika mengalami kebuntuan, ia memilih menonton film atau drama bergenre aksi untuk memperoleh inspirasi. Rasa lelah karena cerita yang belum kunjung selesai juga sempat muncul. Namun, tekad pribadi, dukungan teman-teman, serta doa dan dukungan orang tua membantunya melewati proses tersebut.

Perjalanan Zohanith menuju PBSI UMK juga melalui sejumlah penyesuaian. Setelah lulus dari MAN, ia semula berencana mengambil jurusan Sastra Inggris di Semarang. Rencana itu tidak terwujud, hingga akhirnya ia memilih melanjutkan pendidikan di UMK karena ketertarikannya terhadap sastra.

Selama kuliah, Zohanith mengikuti Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMA PBSI) periode 2024. Ia juga menjalani magang selama empat bulan pada semester lima, yakni di Radio Manggala Kudus dan Murianews Kudus.

Setelah menyelesaikan studi, Zohanith berharap dapat terus menulis karya dengan genre dan nuansa yang berbeda. Ia ingin cerita-ceritanya dapat dibaca sekaligus memberikan inspirasi kepada masyarakat.

Di balik kedua novel tersebut, terdapat proses pembelajaran yang menghubungkan teori di ruang kuliah dengan praktik menulis. Bagi Faradilla dan Zohanith, pemahaman bahasa dan sastra menjadi bekal penting dalam mengembangkan cerita.

Faradilla merasakan manfaat mata kuliah linguistik dalam memperluas pilihan kosakata dan memastikan kalimat-kalimat dalam naskahnya saling terhubung. Sementara itu, Zohanith menilai pembelajaran mengenai makna kata dan tata kalimat memberinya pemahaman untuk merangkai cerita dengan lebih baik.

Peran dosen pembimbing juga menjadi bagian penting dalam proses penyelesaian tugas akhir. Faradilla mendapatkan arahan dan masukan agar naskahnya berkembang, sedangkan Zohanith memperoleh saran, semangat, dan pengetahuan baru selama bimbingan. Dukungan teman-teman seperjuangan turut membantu keduanya mempertahankan motivasi hingga naskah selesai.

Ketua Program Studi PBSI UMK, Dr. Muhammad Noor Ahsin, M.Pd., menjelaskan bahwa Di Prodi PBSI UMK mahasiswa memiliki tiga alternatif jalur penyelesaian studi, yaitu penulisan skripsi, publikasi artikel ilmiah pada jurnal terindeks SINTA 1, SINTA 2, atau SINTA 3, serta penulisan novel sebagai karya kreatif.

“Pilihan tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi, minat, dan kompetensi akademiknya melalui beragam bentuk karya ilmiah maupun sastra, sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku,” tuturnya.

Ahsin menyampaikan apresiasi atas keberhasilan kedua mahasiswa tersebut dalam menyelesaikan studi melalui jalur penulisan novel.

“Selamat kepada Faradilla Budi Anggraini dan Zohanith Fatwa A’yun Nadhif yang telah berhasil menyelesaikan studi melalui jalur penulisan novel. Semoga capaian ini menjadi awal untuk terus berkarya, mengembangkan literasi, dan memberikan kontribusi bagi dunia bahasa dan sastra Indonesia,” ujarnya.

Tia Amanda Silfiana
Author: Tia Amanda Silfiana

Hai, saya adalah seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muria Kudus, yang ingin selalu belajar untuk menjadi lebih baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *