Kuliah Perdana PBSI UMK, Sri Lestari Ajak Mahasiswa Membaca Perempuan Secara Kritis di Era AI

admin
Dr. Sri Lestari, M.Pd., menyampaikan materi dalam kuliah perdana di Prodi PBSI Universitas Muria Kudus, Rabu (7/10/2026).

KUDUS, suaindonesia.com — Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muria Kudus (UMK), bekerja sama dengan Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia (HISKI) Komisariat Kudus, menggelar Kuliah Perdana bertema “Membaca Perempuan di Era AI: Pembelajaran Sastra Berbasis Interseksionalitas dan Kesehatan Mental.”

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar, Gedung Rektorat UMK lantai 4, pada Rabu (8/10/2026) tersebut diikuti sekitar 100 mahasiswa PBSI UMK.

Kuliah perdana menghadirkan Dr. Sri Lestari, M.Pd., dosen Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta, sebagai narasumber. Diskusi dipandu Dr. Drs. Mohammad Kanzunnudin, M.Pd., dosen PBSI UMK sekaligus Ketua HISKI Komisariat Kudus.

Dalam paparannya, Sri Lestari menekankan pentingnya kemampuan membaca karya sastra secara kritis di tengah perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan manusia untuk memahami pengalaman dan kompleksitas kehidupan.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah interseksionalitas, yakni cara pandang yang membantu melihat pengalaman perempuan tidak hanya dari perspektif gender, tetapi juga melalui berbagai faktor sosial, budaya, ekonomi, keluarga, dan lingkungan yang saling beririsan.

“Dalam pembelajaran sastra, kehadiran perempuan sebagai tokoh utama tidak serta-merta menunjukkan bahwa sebuah karya menghadirkan perspektif perempuan,” jelas Sri Lestari.

Menurutnya, pengalaman tokoh perempuan perlu dibaca secara lebih kritis, antara lain dengan melihat kontrol terhadap tubuh dan otonomi fisik, pembungkaman suara melalui narasi patriarki, pengaruh keluarga terhadap pilihan hidup, serta status sosial dan kelas ekonomi yang dapat memengaruhi ruang gerak perempuan.

Dengan demikian, pembacaan terhadap perempuan dalam karya sastra tidak cukup hanya melihat posisi perempuan sebagai tokoh utama. Mahasiswa perlu memahami bagaimana identitas, relasi kuasa, lingkungan sosial, dan berbagai kondisi kehidupan membentuk pengalaman tokoh perempuan.

“Sastra membaca manusia, interseksionalitas membaca kompleksitasnya, dan AI menjadi alat yang menuntut kita untuk terus membaca secara kritis,” ungkap Sri Lestari.

Ia menambahkan bahwa pembelajaran sastra memiliki peran penting dalam membangun kepekaan mahasiswa terhadap berbagai persoalan perempuan. Pembelajaran sastra juga dapat menjadi ruang untuk meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental melalui proses membaca, memahami, dan merefleksikan pengalaman manusia yang dihadirkan dalam karya sastra.

Sementara itu, Ketua Program Studi PBSI UMK, Dr. Muhammad Noor Ahsin, M.Pd.,dalam sambutannya mengatakan tema yang diangkat dalam kuliah perdana tersebut sangat relevan dengan perkembangan teknologi dan tantangan pendidikan saat ini.

Menurut Ahsin, AI telah berkembang pesat dan mampu membantu manusia menghasilkan teks, gambar, hingga berbagai bentuk karya kreatif. Namun, perkembangan teknologi tersebut tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan yang paling mendasar, yaitu membaca, merasakan, memahami, dan merefleksikan pengalaman manusia.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan reflektif dalam memanfaatkan AI. Teknologi seharusnya menjadi alat yang mendukung proses pembelajaran, bukan menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir, menafsirkan, dan memberikan makna.

“Semoga kegiatan Kuliah Perdana ini memberikan banyak ilmu dan manfaat bagi mahasiswa PBSI UMK tentang perpektif pembelajaran sastra berbasis Interseksionalitas. Semoga mahasiswa semakin kritis dalam membaca dan menafsirkan karya sastra di era Kecerdasan artifisial,” pungkasnya.

admin
Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *