PBSI UMK Gelar Webinar Internasional Bahas Strategi Tumbuhkan Kesadaran Bahasa dalam Pembelajaran Bahasa Kedua

Tia Amanda Silfiana
Webinar PBSI UMK, 30 Juli 2026

KUDUS, suaindonesia.com- Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus (UMK) menyelenggarakan webinar bertajuk “Menembus Batas Kelas: Strategi Menumbuhkan Kesadaran Bahasa (Language Awareness) pada Pembelajaran Bahasa Kedua” pada Kamis, 30 Juli 2026, pukul 10.00–12.00 WIB secara daring. Kegiatan ini bersifat wajib bagis eluruh mahasiswa PBSI dan menghadirkan Dr. Nazira Binti Osman dari Universitas Teknologi MARA (UiTM), Malaysia, sebagai pembicara utama, dengan Dr. Mila Roysa, M.Pd. dari UMK bertindak sebagai moderator.

Dalam sambutannya, Ketua Program Studi PBSI UMK menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari agenda akademik hasil kerja sama antara PBSI UMK dan Akademi Pengajian Bahasa UiTM. “Kegiatan webinar ini merupakan salah satu kegiatan akademik, hasil dari kerja sama antara PBSI UMK dengan Akademi Pengkajian Bahasa UiTM. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa memberikan perspektif yang lebih menarik terkait upaya mempelajari bahasa kedua selain bahasa ibu,”  ujarnya.

Webinar ini berfokus membahas psikologi dan masalah seseorang saat mempelajari bahasa yang bukan bahasa ibu mereka. Dr. Nazira Osman membuka paparannya dengan menyoroti tantangan yang dihadapi pembelajar bahasa kedua, baik di Indonesia maupun Malaysia, seperti kekhawatiran akan kesalahan tata bahasa, rasa takut dicap “sok Inggris”, kebingungan menerjemahkan kata demi kata, hingga rasa malu terhadap logat daerah. Ia menyebut tiga akar persoalan utama, yaitu stigma sosial, kesantunan budaya, dan kecemasan terhadap aksen.

Pada bagian psikologis, Nazira mengutip Hipotesis Filter Afektif (Affective Filter Hypothesis) dari Stephen Krashen, yang menyatakan bahwa kondisi emosional pembelajar seperti stres, cemas, atau kurangnya motivasi dapat menjadi penghalang yang menghambat penyerapan bahasa. Sebaliknya, motivasi tinggi, rasa percaya diri, dan kecemasan yang rendah pemerolehan bahasa akan didapat secara optimal.

Sebagai solusi, ia memaparkan tiga langkah mengatasi hambatan psikologis, yaitu meluruskan stigma sosial bahwa penggunaan bahasa kedua adalah keterampilan profesional dan bukan pernyataan sikap, memaknai ulang kesantunan budaya agar partisipasi aktif di kelas dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap proses belajar, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap aksen lokal darip pada menghilangkannya.

Lima strategi ditawarkan kepada peserta oleh Nazira, yaitu penerapan Hipotesis Menyadari, analisis kontrastif  kalimat antara bahasa ibu dan bahasa kedua, membetulkan kesalahan berbahasa dan tidak mudah putus asa, membuat catatan refleksi mingguan, serta eksplorasi lanskap linguistik lokal di sekitar Kudus, seperti penggunaan bahasa Inggris pada area Menara Kudus, kafe, dan media sosial.

Sebagai penutup, Nazira Osman menegaskan bahwa penguasaan bahasa kedua tidak hanya soal nilai ujian, tetapi juga kelancaran berkomunikasi yang dibangun melalui pemahaman struktur bahasa, relfeksi diri, hasil yang bermakna, dan suasana belajar yang menyenangkan. Webinar ini merupakan tindak lanjut kerja sama akademik antara PBSI UMK dan Akademi Pengajian Bahasa UiTM Cawangan Perlis, dan diikuti oleh mahasiswa PBSI UMK secara daring hingga sesi tanya jawab di penghujung acara.

Tia Amanda Silfiana
Author: Tia Amanda Silfiana

Hai, saya adalah seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muria Kudus, yang ingin selalu belajar untuk menjadi lebih baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *