KUDUS, suaindonesia.com– Hanifah Febria Dwiyanti, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muria Kudus (UMK), berhasil menyelesaikan studinya tanpa melalui jalur skripsi, melainkan melalui jalur publikasi jurnal ilmiah terindeks SINTA 2.
Perempuan kelahiran Pati, 5 Februari 2004 itu menuntaskan pendidikan sarjananya dalam waktu 3 tahun 5 bulan. Ia juga berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00, yang mencerminkan konsistensi dan keseriusannya dalam menempuh studi. Capaian tersebut mengantarkannya meraih predikat wisudawan terbaik, pada Wisuda ke-76 Periode I Tahun 2026.
“Sejak awal saya menargetkan hasil maksimal. Saya berusaha sejak semester pertama untuk memberikan yang terbaik sesuai kemampuan saya,” tutur Hanifah usai diwisuda, Kamis (7/5/2026).
Alih-alih memilih jalur skripsi konvensional, Hanifah mengambil rute yang lebih menantang, yaitu publikasi ilmiah terindeks SINTA 2. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia ingin menguji kapasitas dirinya, mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, sekaligus memberi kontribusi nyata dalam dunia akademik.
SINTA merupakan singkatan dari Science and Technology Index, yaitu sistem indeksasi dan pengukuran kinerja publikasi ilmiah yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia.
SINTA 2 adalah kategori jurnal ilmiah dengan kualitas sangat baik dan memiliki reputasi tinggi di tingkat nasional. Jurnal yang masuk peringkat ini telah melalui proses akreditasi ketat, baik dari aspek kualitas artikel, tata kelola jurnal, konsistensi penerbitan, hingga dampak sitasi ilmiahnya.
”Bisa lulus kuliah di PBSI tanpa skripsi rasanya sangat melegakan sekaligus bangga. Jalur publikasi memberikan kepuasan intelektual yang berbeda bagi saya karena karya saya tidak hanya tersimpan di perpustakaan kampus, tetapi juga diakui oleh komunitas akademik yang lebih luas dan dapat diakses oleh siapa saja secara daring,” ungkap perempuan yang beralamat di Desa Tanjung sekar 03/03 Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati.
Artikel ilmiahnya yang berjudul “Literary Ecological Analysis in Tere Liye’s Novel Pulang Pergi” menjadi tiket emas menuju predikat wisudawan terbaik. Dalam prosesnya, Hanifah didampingi dua pembimbing, Dr. Agus Darmuki, M.Pd. dan Dr. Mohammad Kanzunnudin, M.Pd.
Kaprodi PBSI UMK, Dr. Muhammad Noor Ahsin, M.Pd., turut menyampaikan apresiasi atas capaian Hanifah yang berhasil menyelesaikan studi melalui jalur publikasi ilmiah tanpa skripsi. Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa PBSI UMK memiliki ruang untuk berkembang sesuai minat dan kompetensi akademiknya.
“Selamat kepada Mbak Hanifah yang berhasil lulus melalui jalur publikasi ilmiah SINTA 2. Di PBSI UMK, mahasiswa diberi pilihan dalam menyelesaikan tugas akhir, mulai dari skripsi, publikasi ilmiah terindeks SINTA 1, 2, atau 3, hingga penulisan novel. Pilihan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya,” tutur Ahsin.
Namun, jalan tersebut jauh dari kata mudah. Ia harus melalui tahapan panjang: memetakan teori, mengumpulkan data, menyusun naskah, hingga menghadapi proses peer-review yang ketat. Penolakan dari jurnal sempat menjadi bagian dari perjalanannya. Tapi alih-alih mundur, Hanifah justru menjadikannya bahan bakar untuk melangkah lebih jauh.
Dengan rutin berkonsultasi kepada dosen pembimbing, memanfaatkan teknologi digital, serta memperkuat argumen melalui berbagai literatur, ia berhasil menembus publikasi di jurnal Attractive.
“Peran pembimbing sangat berarti bagi saya. Mereka tidak hanya memberikan masukan teknis, tetapi juga dukungan moral saat saya menghadapi revisi dari reviewer,” ungkap Hanifah, putri Bapak Warsono dan Ibu Jamiah.
Di balik kesibukannya menulis dan meneliti, Hanifah ternyata tidak membatasi diri hanya pada dunia akademik. Ia aktif menjajal berbagai pengalaman di luar kampus. Mulai dari mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Batch 3 di Universitas Pattimura, magang di kantor berita Muria News dan magang radio Manggala, hingga terjun langsung dalam program asistensi mengajar di MAN 1 Kudus.
Tak berhenti di situ, jiwa kepemimpinannya juga terasah melalui organisasi. Hanifah aktif di Himpunan Mahasiswa Prodi (Himapro) PBSI selama dua periode. Pada 2023, ia mengemban amanah sebagai Koordinator Advokasi dan Sosial, lalu dipercaya menjadi Ketua Himapro PBSI pada 2024.
Dari organisasi, ia belajar banyak hal mulai dari membangun karakter, menyelesaikan masalah, hingga mengasah kemampuan berbicara di depan publik.
Kini, setelah menuntaskan satu bab penting dalam hidupnya, Hanifah menatap masa depan dengan harapan besar. Ia bercita-cita melanjutkan studi dan berkontribusi sebagai akademisi di bidang bahasa dan sastra Indonesia.
“Setelah lulus dari PBSI pastinya saya ingin menjadi akademisi dan semoga bisa melanjutkan studi saya ke jenjang berikutnya,”harapnya.
Ia memegang teguh sebuah prinsip hidup sederhana namun bermakna, bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh garis keturunan, melainkan oleh adab dan sikap yang dimiliki.
Bagi Hanifah, prestasi bukan sekadar angka atau gelar. Ia adalah hasil dari keberanian memilih jalan berbeda, dan keteguhan untuk tetap melangkah, meski tidak selalu mudah.












