KUDUS, suaindonesia.com – Menjadi mahasiswa aktif bukan berarti harus mengesampingkan prestasi akademik. Prih Nur Fia Istiqomah, yang akrab disapa Isti, membuktikan bahwa ruang belajar tidak selalu terbatas pada ruang kuliah.
Di tengah aktivitas organisasi, program pengabdian, pengalaman mengajar, hingga kesempatan belajar di luar negeri, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus (UMK) itu berhasil menyelesaikan studinya dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,98 pada Wisuda ke-77 UMK periode Oktober 2026.
Perjalanan Isti menuju kelulusan bukanlah kisah tentang mahasiswa yang sejak awal menemukan jalan tanpa keraguan. Sebaliknya, ia pernah berada dalam situasi ketika pilihan pendidikan yang diambil terasa tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan. Sebelum menjadi mahasiswa PBSI UMK, Isti menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di kampus lain.
Semula, ia mengira materi yang dipelajari di PBA tidak jauh berbeda dengan PBSI. Namun, setelah menjalani perkuliahan, ia menyadari bahwa kedua bidang tersebut memiliki perbedaan. Keraguan pun muncul ketika ia merasa kesempatan yang diperoleh belum sesuai dengan bayangannya.
Nasihat yang kerap didengarnya justru mengingatkan agar ia meneruskan pilihan yang sudah telanjur diambil. Namun, setelah mempertimbangkan berbagai hal, Isti memutuskan untuk berpindah program studi dan memilih PBSI UMK. Salah satu alasannya, UMK menjadi perguruan tinggi di kawasan Pantura Timur yang menyediakan program studi tersebut.
Keputusan itu menjadi titik penting dalam perjalanan akademiknya. Bagi Isti, berpindah jalur bukan semata-mata meninggalkan pilihan lama, melainkan membuka kesempatan untuk mengenali potensi dan mencoba pengalaman baru.
Ia menggambarkan pengalamannya melalui sebuah perumpamaan yang lahir dari perjalanan pribadi.
“Terkadang kembali ke daratan setelah terlanjur basah bukan pilihan yang buruk. Ada banyak hal yang bisa kita pahami akhirnya, kedalaman air, pengalaman berenang, serta kesempatan-kesempatan lain yang ada di daratan,” ungkap Isti, saat diwawancari, Rabu (21/10/2026).
Organisasi sebagai Ruang Belajar
Setelah bergabung dengan PBSI UMK, kesempatan belajar yang ditemui Isti tidak hanya datang dari kegiatan perkuliahan. Ia aktif mengikuti sejumlah organisasi, yakni PMII Komisariat Sunan Muria, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pena Kampus, Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM), dan Kudus Book Party.
Bagi Isti, organisasi bukan sekadar tempat memperluas pergaulan atau mengisi waktu di luar kelas. Aktivitas tersebut menjadi ruang untuk belajar memahami orang lain, berkomunikasi, bekerja sama, dan mengambil tanggung jawab.
Pengalaman itu salah satunya ia peroleh ketika menjabat sebagai sekretaris umum BEM KM. Tanggung jawabnya meliputi pengelolaan administrasi, koordinasi surat masuk dan surat keluar, penyusunan kerangka acuan kerja, serta penyusunan laporan pertanggungjawaban. Ia juga membantu bidang komunikasi dan informasi dalam menyiapkan narasi siaran pers.
Tugas-tugas tersebut menuntut ketelitian, kemampuan mengelola pekerjaan, dan komunikasi dengan banyak pihak. Dari pengalaman itu, Isti belajar menghubungkan gagasan dengan tindakan sekaligus menyampaikan pemikirannya secara lebih berani.
“Organisasi mengajarkan saya untuk memahami beberapa karakter orang lain, sehingga saya tidak boleh dengan mudah menjustifikasi sebuah hal, melahirkan naluri untuk tidak egois, dan yang tidak kalah penting adalah membawa saya pada sirkel pertemanan yang lebih supportif,” tutur Perempuan kelahiran Blora, 3 Desember 2003.
Pandangan itu memperlihatkan bagaimana organisasi menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya. Pengalaman berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki karakter dan cara berpikir berbeda membuatnya belajar menahan penilaian, memahami perspektif lain, serta mengutamakan kerja bersama.
Dari Merauke hingga Thailand
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Isti adalah mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) selama lima bulan di Merauke, Papua Selatan. Pengalaman tinggal di kawasan yang dihuni masyarakat dari beragam latar belakang budaya memberinya pelajaran tentang keberagaman dan kehidupan bersama.
Di Merauke, Isti menyaksikan bagaimana perbedaan dapat hadir berdampingan dengan tenggang rasa. Masyarakat dari berbagai suku dan daerah hidup dalam lingkungan yang beragam, tetapi tetap memiliki ruang untuk saling menghargai.
“Bagi saya, menyaksikan Merauke sama halnya menyaksikan Indonesia,” kata peraih beasiswa KIP.
Pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai perjalanan ke daerah yang jauh dari kampus asalnya. Merauke menjadi ruang belajar yang memperluas pandangannya tentang Indonesia, terutama mengenai keberagaman dan cara manusia membangun kehidupan bersama.
Isti juga memperoleh pengalaman internasional melalui kegiatan pengenalan lapangan persekolahan di Thailand. Sebagai negara pertama di luar Indonesia yang dikunjunginya, Thailand menghadirkan pengalaman baru sekaligus mengubah cara pandangnya terhadap dunia.
Ia menyadari bahwa kesempatan untuk melangkah keluar dari lingkungan yang akrab dapat mempertemukannya dengan banyak hal yang sebelumnya belum pernah dibayangkan.
“Ketakutan-ketakutan saya ternyata tidak lebih besar ketika saya berani melangkah dan mencoba,” ujar putri dari Bapak Parno.
Bagi Isti, Merauke dan Thailand memberikan pelajaran yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Merauke mengajarkannya memahami keberagaman di dalam negeri, sedangkan Thailand memperluas kesadarannya bahwa dunia menyediakan ruang belajar yang jauh lebih luas daripada lingkungan yang selama ini dikenalnya.
Pengalaman Lapangan
Kesempatan belajar Isti juga hadir melalui Program Kampus Mengajar angkatan 7. Selain itu, ia pernah menjalani magang Jurnalistik di BetaNews.id dan Radio Maggala Kudus. Berbagai pengalaman tersebut mempertemukannya dengan situasi nyata yang membutuhkan penerapan pengetahuan, kemampuan berkomunikasi, dan penyesuaian diri.
Menurut Isti, pengalaman praktik penting karena tidak semua materi mudah dipahami hanya melalui penjelasan teoretis. Ia merasa praktik langsung membuat pembelajaran lebih mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan di lapangan.
Meski demikian, ia tidak memisahkan praktik dari teori yang dipelajari selama kuliah. Baginya, keduanya saling melengkapi. Pengetahuan dari perkuliahan menjadi bekal untuk memahami persoalan, sedangkan pengalaman lapangan memberinya kesempatan menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi nyata.
Pembelajaran di PBSI UMK, menurutnya, juga memberikan ruang untuk berkembang melalui praktik. Ia merasakan lingkungan akademik yang hangat dan kekeluargaan antara dosen dan mahasiswa.
“Bagi saya pribadi, kelebihan terbesar yang saya rasakan selama menjadi mahasiswa PBSI adalah banyaknya kesempatan atau kebebasan untuk memilih ruang belajar, yang artinya pembelajaran tidak terbatas hanya di dalam kelas,” ungkapnya.
Pengalaman organisasi, program pertukaran mahasiswa, kegiatan mengajar, dan magang memperlihatkan bagaimana ruang belajar dapat hadir dalam beragam bentuk. Di setiap kegiatan, Isti berkesempatan mengembangkan kemampuan yang tidak selalu dapat diperoleh hanya dengan duduk di bangku kuliah.
Selama menempuh pendidikan, ia juga berhasil lolos sejumlah program Merdeka Belajar, termasuk Kampus Mengajar angkatan 7 dan Pertukaran Mahasiswa Merdeka. Selain itu, ia terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat yang memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bersama anggota BEM dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Rangkaian pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan akademiknya hingga berhasil meraih IPK 3,98. Prestasi tersebut hadir bersamaan dengan keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan dan pengembangan diri.
Menyusun Prioritas
Menjalani perkuliahan sekaligus aktif dalam organisasi dan program di luar kampus tentu membutuhkan pengelolaan waktu. Isti mengaku terbiasa menyusun skala prioritas berdasarkan tingkat kesulitan pekerjaan dan tenggat penyelesaiannya.
Ia juga menuliskan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan setiap hari melalui ponsel. Cara sederhana tersebut membantunya melihat tanggung jawab yang perlu didahulukan dan pekerjaan yang masih dapat ditunda.
Namun, Isti tidak menggambarkan dirinya sebagai mahasiswa yang selalu bersemangat setiap saat. Ia mengakui pernah merasa malas dan lelah hingga hal itu mengganggu beberapa tanggung jawabnya.
Ketika menghadapi kondisi tersebut, ia memilih beristirahat sejenak dengan menonton film atau membaca novel. Dua kegiatan itu memang menjadi hobinya, terutama menonton film Indonesia dan membaca novel bertema sejarah.
Pengakuan tersebut menghadirkan sisi lain dari perjalanan Isti. Di balik capaian akademik dan beragam kegiatan yang dijalani, ada proses mengelola energi, menghadapi kejenuhan, dan kembali menyelesaikan tanggung jawab.
Baginya, mengatur waktu bukan berarti memenuhi setiap jam dengan kegiatan. Menentukan prioritas, mengenali batas diri, dan menyediakan waktu untuk beristirahat juga menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan.
Melangkah Setelah Wisuda
Kini, setelah menyelesaikan studi di PBSI UMK dengan IPK 3,98, Isti ingin melanjutkan perjalanan dengan mencoba berbagai peluang karier. Ia memiliki cita-cita menjadi pengajar, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk menekuni bidang pekerjaan lain.
“Saya bercita-cita menjadi pengajar. Namun, setelah lulus ini saya ingin mencoba mencari berbagai peruntungan di mana saja. Baik itu menjadi pengajar maupun tidak mengajar. Hal terpentingnya adalah karier apa pun asal saya dapat mengerjakannya dengan bahagia dan layak,” ujarnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kelulusan bukan akhir dari proses pencarian dirinya. Setelah melewati pengalaman berpindah program studi, aktif berorganisasi, belajar di Merauke, mengikuti kegiatan di Thailand, hingga terlibat dalam program mengajar dan magang, Isti masih membuka diri terhadap berbagai kemungkinan.
Perjalanannya menjadi pengingat bahwa pengalaman mahasiswa tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang diikuti, tetapi juga dari hal-hal yang dipelajari dan tanggung jawab yang dijalankan. Organisasi, bagi Isti, bukan penghalang untuk meraih prestasi akademik. Justru melalui ruang-ruang itulah ia menemukan kesempatan untuk belajar, membangun relasi, dan memahami dirinya.
“Selamat kepada Prih Nur Fia Istiqomah atas keberhasilannya meraih IPK 3,98. Capaian ini membanggakan, terlebih Isti juga aktif berorganisasi dan mengikuti berbagai program pengembangan diri, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kami berharap pengalaman dan prestasi yang diraihnya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa PBSI UMK lainnya untuk terus belajar, berani mengambil kesempatan, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” ujar Dr. Muhammad Noor Ahsin, Kaprodi PBSI UMK.
Dengan IPK 3,98, Isti menuntaskan satu tahap penting dalam pendidikan tinggi. Namun, seperti perumpamaan tentang kembali ke daratan yang pernah ia ungkapkan, perjalanan itu tidak harus berhenti pada satu tujuan. Masih ada ruang baru untuk dijelajahi, pengalaman lain untuk dipelajari, dan kesempatan untuk terus bertumbuh.












