JEPARA, suaindonesia.com – Suasana khidmat sekaligus penuh haru menyelimuti SMA Negeri 1 Mayong pada Rabu, 6 Mei 2026. Acara pelepasan siswa kelas XII tahun ini tampil berbeda karena mengusung konsep unik yang menggabungkan Panen Raya Hidroponik dan prosesi kelulusan.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momen perpisahan, tetapi juga sarana apresiasi atas kreativitas dan pembelajaran siswa melalui kegiatan panen hasil hidroponik. Perpaduan antara edukasi, kewirausahaan, dan seremoni kelulusan menciptakan suasana yang meriah namun tetap syahdu.
Momen paling emosional terjadi saat prosesi pelepasan atribut sekolah dan pengalungan samir. Siti Khotijah, salah satu lulusan, mengaku bangga dapat menyelesaikan masa pendidikannya hingga tuntas.
“Rasanya bangga karena merasa bisa bertahan dan berjuang sampai titik ini,” ungkapnya.
Kesan haru juga dirasakan Sali Nataneila. Ia menyebut momen paling menyentuh terjadi ketika orang tua secara langsung mengalungkan samir kepada para siswa.
“Banyak orang tua yang menangis bangga melihat anaknya sudah sampai di tahap ini,” ujar Sali.
Keduanya sepakat bahwa orang tua, terutama sosok ayah, menjadi figur pertama yang ingin mereka peluk sebagai ungkapan terima kasih atas dukungan selama masa sekolah.
Kesadaran akan berakhirnya masa SMA semakin terasa saat pembacaan Surat Keputusan (SK) kelulusan dan sesi foto bersama. Siti Khotijah mengaku suasana tersebut membuatnya menyadari bahwa kebersamaan sebagai siswa telah mencapai akhir.
“Perasaan saya campur aduk. Bahagia karena lulus, tapi juga sedih karena harus berpisah. Rasanya seperti senang dan kehilangan sekaligus,” tambahnya.
Acara yang berlangsung meriah namun penuh makna itu ditutup dengan momen saling bertukar hadiah dan pelukan antar siswa. Momen tersebut menjadi penanda awal perjalanan baru bagi para lulusan SMA Negeri 1 Mayong untuk melangkah menuju masa depan masing-masing.












